Yayasan Budaya Wanju resmi membatalkan tur bertema Perfect Crown setelah program tersebut terus menuai kritik dari publik Korea Selatan. Keputusan itu diumumkan menyusul gelombang protes yang muncul di media sosial maupun komunitas budaya lokal.
Tur tersebut sebelumnya dirancang sebagai program wisata budaya yang mengusung konsep kerajaan dan sejarah Korea. Namun banyak warga menilai tema Perfect Crown dianggap kontroversial dan tidak sensitif terhadap nilai sejarah tertentu.
Baca Juga: Pertamina Sebut Indonesia Masih Simpan Potensi 11 Miliar Barel Minyak
Kritik juga muncul karena pihak penyelenggara dinilai kurang mempertimbangkan opini masyarakat sebelum meluncurkan program tersebut. Sejumlah netizen Korea menyebut konsep tur terlalu komersial dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap budaya tradisional Korea.
Dalam pernyataan resminya, Yayasan Budaya Wanju menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas polemik yang terjadi. Mereka juga mengaku akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program budaya serupa di masa mendatang.
Baca Juga: Prabowo Resmi Bentuk PT Danantara Sumber Daya Indonesia, Jadi BUMN Khusus Ekspor SDA
Keputusan pembatalan ini mendapat beragam respons dari publik. Sebagian mendukung langkah yayasan karena dinilai menghormati aspirasi masyarakat, sementara yang lain menilai kontroversi tersebut seharusnya bisa diselesaikan tanpa perlu membatalkan seluruh program.
Kasus ini kembali menunjukkan tingginya sensitivitas publik Korea Selatan terhadap isu budaya dan sejarah, terutama ketika dikaitkan dengan proyek wisata maupun hiburan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai lokal.






